Dunia Ketelanjangan adalah,
dunia yang didalamnya tidak ada lagi
batas-batas moral mengenai baik/buruk,
benar/salah, pantas/ tak pantas.
Tidak ada lagi batas mengenai apa yang boleh
/tak boleh, perlu/tak perlu, berguna/tak berguna
- inilah ketelanjangan.
YASRAF AMIR PILIANG
Kehidupan dunia semakin mengarahkan manusia untuk memenuhi hasratnya tanpa batas. Dalam aktivitas budaya terkini, masyarakat banyak mendapat pelbagai tawaran untuk memenuhi hasrat-hasrat yang muncul dan menghilang dengan kecepatan tinggi, baik yang kongkrit ataupun hanya sesuatu yang imajinatif dan dapat memenuhi hasrat manusia. Tawaran itu hadir dan berkelindan dengan beragam makna baru didalamnya yang bertujuan untuk memenuhi hasrat-hasrat manusia, situasi ini dapat kita lihat dengan beragamnya tawaran hiburan baik melalui media elektronik, internet atau lainya yang di bantu dengan teknologi tinggi, semuanya hadir dan menghilang dengan kecepatan sangat tinggi pula. Situasi ini akan menimbulkan dampak prilaku budaya yang tidak mengindahkan moralitas. Sebab apapun boleh dilakukan, diproduksi, dipertontonkan, digunakan selama ia dapat menciptakan kesenangan, keterpesonaan, keuntungan serta dapat memenuhi hasrat manusia.
Semua hasil budaya dan aktivitas gerak manusia dikondisikan untuk mengikuti bentukan budaya tersebut sehingga siapapun yang tidak mengikuti trend budaya dapat di "cap" sebagai ketinggalan jaman dan tidak memahami perkembangan zaman yang terjadi. Kemudian timbullah kegelisahan-kegelisan, yang menjadi gejala kejiwaan, jika tidak ikut dan lebur dalam bentukan budaya pemenuhan hasrat itu. Perempuan gelisah jika tidak memakai pemutih dan laki-laki juga gelisah ketika tubuhnya kurang berotot dan banyak lagi gejala-gejala kejiwaan lainnya.
Prilaku masyarakat telah dikondisikan dan terkontrol untuk patuh mengikuti pola-pola kehidupan yang hanya berupa tontonan, suatu komoditas yang di tampilkan dengan makna yang miskin tentang nilai-nilai luhur dan spiritual. Dalam istilah masyarakat yang ikut tersebut oleh Foucault disebut masyarakat yang telah didisiplinkan. Kehidupan manusia tampak hanya menjadi sebuah tontonan (publikspactacle) dengan berbagai tawarannya yang menarik. Tawaran itu bertujuan untuk mengisi waktu luang dan menghilangkan penatnya aktivitas padat manusia, setelah seharian bekerja dan kecapaian seperti sebuah obat untuk melepas kelelaan dan menjadi candu baru di abad ini. Selanjutnya direproduksi alat-alat atau kondisi/kejadian yang dapat menjadi solusi sesaat untuk menghilangkan keletihan umat manusia dari aktivitas hidup yang menekankan kecepatan, kesenangan materi dan tanpa memperhatikan nilai luhur. manusia yang telah kecanduan tidak akan segan-segan untuk mengeluarkan uang yang banyak demi pemuasan hasrat mereka tersebut.
Bentuk budaya ini bukan berdiri tanpa sebuah ideologi sebagai landasan geraknya. Ideologi kapitalis-liberal-lah yang berada di belakang terciptanya budaya hedonis ini. Ideologi kapitalis-liberal berhasil melakukan hegemoni. Karena penyebarannya dibantu oleh media dengan berbagai proganda untuk mengubah dan menciptakan persepsi dalam benak manusia untuk selalu memuaskan hasrat materi, walaupun sesungguhnya tidak menjadi kebutuhan utama atau benar-benar dibutuhkan. Cara kerjanya, media ini menciptakan rekaan atau manipulasi kebutuhan dengan berbagai macam citra yang diinginkan. Dengan kekuatan media, ideologi ini mampu menebarkan ide-ide untuk mempengaruhi cara pandang dunia dan cara kerja umat manusia.
Salah satu dari penyebaran ide tentang kebebasan (liberalisme), adalah isu demokrasi dengan makna yang ambigu dijadikan jargon kaum kapitalis dalam rangka menekan setiap bentuk kelompok perlawanan yang tidak sepakat dengan ideologi mereka di cap atau di stereotipkan sebagai kelompok yang melawan nilai-nilai kemanusiaan karena menolak paham kebebasan dan demokrasi. Siapapun yang tidak setuju dimasukan menjadi kaum anti demokrasi dan kebebasan yang berarti anti kemanusiaan. Dengan mengatasnamakan kebebasan maka siapapun bebas untuk melakukan tindakan apapun untuk menunjukan hasratnya, kondisi ini dapat melahirkan sikap tidak peduli dan masa bodoh selama tidak mengganggu mereka yang mengikuti budaya ini secara kaffah.
Hegemoni yang massif dan tanpa pandang buluh oleh ideologi kapitalis-liberal akan terus berlanjut. Sejauh mana ideologi ini terus berjalan sangat tergantung dengan kita sebagai manusia baik individu maupun kelompok, bangsa di dunia, apakah akan terus hanyut atau melakukan perlawanan untuk menggantikan keadaan dunia yang telah dihegemoni dan di disorientasikan baik pahaman maupun kebutuhan.
Ragam Reaksi Perlawanan
Di wilayah sosiologis, terdapat berbagai kelompok perlawanan untuk melakukan protes terhadap ideologi kapitalis-liberal ini. Salah satu cara yang dilakukan kelompok perlawanan itu salah satunya adalah membongkar setiap pahaman yang ada di masyarakat. Mereka mencoba menolak setiap pemikiran dan prilaku yang merujuk kepada suatu ajaran moralitas yang dapat berlandaskan ajaran agama atau hasil pemikiran. Dengan menimbulkan pahaman baru yang menolak hegemoni adanya kebenaran atau keluhuran yang tunggal, setiap pengetahuan dan prilaku yang mengarahkan kepada suatu hegemoni tunggal sebagai suatu yang harus digubah, mereka bermaksud untuk melakukan pembongkaran terhadap hegemoni yang ada, tetapi pada kenyataannya pahaman ini menimbulkan keyakinan yang relatifis, padahal maksudnya justru untuk meninggikan nilai-nilai kemanusiaan. Alih-alih mereka melakukan terobosan baru untuk memanusiakan manusia, tapi malah menimbulkan cara pandang liberal "baru" yang membolehkan apapun.
Sementara itu, kelompok kedua yang melakukan perlawanan dengan cara menolak dan coba melokalisir kehidupan karena dianggap sudah tidak suci lagi. Mereka lebih menonjolkan hal-hal yang bersifat simbolis keagamaan, prilaku ini dapat dilihat pada berbagai kelompok agama, termasuk underbouw-nya di gerakan mahasiswa. Mereka beranggapan bahwa dengan menonjolkan simbol agama atau penegakkan keyakinan ajarannya maka semua akan selesai, padahal harus disadari, persoalannya tidaklah segampang itu karena mereka harus memikirkan juga struktur dan sistem, baik pahaman dan orang-orang yang akan menjalankannya. Kelompok ini banyak bermunculan terutama di bumi persada Indonesia sebagai kelompok perlawanan dengan ciri dan pola geraknya masing-masing yang berbeda.
Menggerakkan Pemuda dan Mahasiswa
Di tengah kehidupan yang telah dihegemoni ideologi kapitalis-liberal, maka sebetulnya ada setitik harapan dengan timbulnya kebosanan atas bentukan budaya manipulatif ini dalam diri manusia. Oleh karena itu yang harus kita kembangkan dan tumbuhkan adalah kesadaran akan pentingnya nilai-nilai keluhuran, yakni : keadilan, kejujuran, dan keutamaan moral. Langkah yang mungkin dapat kita lakukan adalah dengan memunculkan generasi yang tersadarkan akan pentingnya nilai-nilai keluhuran sebagai landasan gerak untuk menentukan arah perkembangan dunia kita.
Dengan demikian kita mesti melakukan usaha-usaha yang termobilisir dan mempunyai sistem jangka panjang untuk mewujudkan kelompok ini terutama dalam tubuh generasi muda. Mengapa mesti anak muda? Ya, karena merekalah yang akan meneruskan generasi yang akan datang. Oleh karena itu kita perlu memupuk generasi ini.
Dalam ranah intelektual, pada umumnya kelompok yang termaju dari generasi muda adalah mahasiswa. Dengan demikian orang yang tersadarkan akan hegemoni ideologi kapitalis-liberal harus melakukan penyadaran di kalangan mahasiswa dan mengorganisir mahasiswa untuk melakukan perlawanan yang masif. Intelektual yang tersadarkan salah satunya harus muncul dari kalangan mahasiswa, dan mereka yang tersadarkan ini harus memimpin dan mengorganisir diri, ini bukan hanya mimpi di siang bolong, tetapi kita harus bermimpi untuk menjadi generasi pendorong perubahan sebab kita belumlah kalah.
Sayangnya, dua ragam gerakan perlawanan dan penyadaran yang disebutkan tadi masih belumlah lengkap pemahamannya di wilayah epistemologi. Oleh karena itu harus dimunculkan model gerakan penyadaran yang lebih komprehensif pahaman dan mempunyai metodologi gerakan yang jelas dalam menyikapi realitas yang ada. HMI-kah gerakan itu? Sedangkah HMI bergerak melakukannya? Fresa R
Tidak ada komentar:
Posting Komentar